MALANG — Jurusan Pekerjaan Sosial SMKN 2 Malang menggelar Pembekalan Kelas Industri Pilar Kesejahteraan Sosial bagi murid kelas 11. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Rabu hingga Jumat (29–31 Juli 2026) di Hall Student Center Pertamina SMKN 2 Malang ini, diselenggarakan guna mengenalkan dunia kerja dan peran praktisi sosial sejak dini kepada para murid.
Sebanyak 98 murid yang terbagi dalam 23 kelompok kecil dibekali persiapan matang sebelum diterjunkan langsung mendampingi Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK). Program ini merupakan tahap lanjutan dalam kurikulum jurusan Pekerjaan Sosial. Jika di kelas 10 murid fokus mempelajari primary setting di lembaga, maka di kelas 11 fokus pembelajaran bergeser secara penuh ke primary setting di tengah masyarakat. Para murid akan diberangkatkan pada 3 Agustus 2026 dan menjalani program di lapangan hingga 31 Oktober 2026 mendatang. Selama kurang lebih tiga bulan, mereka disiapkan sebagai asisten pekerja sosial yang bertugas di berbagai desa/kelurahan di wilayah Kecamatan Wagir dan Kecamatan Bululawang.
Dalam arahannya, Kepala Program Keahlian Pekerjaan Sosial Andarwati, S.Pd., menekankan bahwa murid tidak lagi sekadar melakukan simulasi. Mereka akan menangani masalah sosial secara nyata, mulai dari pendampingan lansia, penyandang disabilitas, hingga merekap data penerima bantuan menggunakan teknologi terkini.

“Murid harus selalu menjaga attitude, kesopanan, adab, dan etika demi menjaga nama baik SMKN 2 Malang saat berinteraksi dengan tokoh masyarakat, lurah, camat, maupun bidan desa,” pangkas Ibu Andarwati. Beliau juga berpesan agar para murid dapat melatih kerja sama tim, beradaptasi dengan baik, tepat waktu, serta selalu menjaga kesehatan dan berkoordinasi dengan pembimbing jika menemui kendala di lapangan.
Pembekalan Komprehensif dari Praktisi dan Profesional
Pada hari pertama pembekalan (29/7/2026), pemateri dari TKSK Kecamatan Bululawang, Bapak Ahmad Kuzaini, membekali murid dengan pemahaman pemetaan kemiskinan, pendataan bencana, serta teknik asesmen lapangan. Sementara itu, Aris Yuspri Adi selaku pemateri TKSK Kecamatan Wagir memaparkan keberagaman 12 desa di Wagir. Beliau memberikan pembekalan terkait teknik penyusunan kronologi, asesmen, dan input data pendampingan lansia, balita, disabilitas, hingga ODGJ.
Bapak Aris turut memotivasi murid agar bangga memilih jurusan Pekerjaan Sosial. Menurutnya, profesi ini dilindungi oleh undang-undang dan memiliki peluang karir yang sangat luas, mulai dari melanjutkan studi ke STKS Bandung, mendirikan Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS), hingga aktif berjejaring di tingkat desa.

Berlanjut ke hari kedua (30/7/2026), murid mendapatkan materi dari Chandra Nugraha, A.Md.Par., S.M., alumni sekaligus selaku praktisi dari Radio Tidak Sakti Malang. Beliau membekali murid dengan materi public speaking dan grooming. Penampilan dan cara membawakan diri dinilai menjadi kunci utama saat berinteraksi di lapangan. Melalui penguasaan teknik vokal, intonasi, artikulasi yang jelas, kontak mata, hingga gestur yang tenang, murid diharapkan dapat mengontrol rasa gugup dan tampil percaya diri di depan publik maupun di tengah masyarakat.
Dengan pembekalan yang lengkap dari sisi teknis lapangan hingga soft skill, para calon asisten pekerja sosial ini diharapkan mampu menjalankan tugas dengan profesional serta membawa dampak positif bagi masyarakat.
Jurnalis: A.Sylvi Y, S.Sos & Rosalia Febriana(X PS 3)