Tidak hanya menyalin atau sekedar memotret dari papan tulis tanpa tujuan, murid kelas X SMKN 2 Malang dibekali cara mencatat yang lebih kreatif dan efektif dalam Workshop Pengembangan Keterampilan Menulis, Jumat (10/10). Workshop yang digelar di Student Center Pertamina SMK Negeri 2 Malang ini mengenalkan tiga teknik mencatat populer yang bisa langsung dipakai untuk belajar di semua mata pelajaran.
Tiga teknik tersebut adalah:
1. Mind Mapping: Mencatat dengan peta pikiran, mengandalkan cabang warna-warni dan kata kunci. Cocok untuk siswa yang visual dan mudah mengingat alur besar materi.
2. Metode Cornell: Membagi kertas menjadi tiga bagian: kolom catatan, kolom kata kunci/pertanyaan, dan kolom ringkasan atau kesimpulan. Teknik ini melatih siswa untuk berpikir kritis dan merangkum, bukan sekadar menyalin.
3. Bullet Journal / Bullet Point: Mencatat poin-poin penting secara cepat, singkat, dan terstruktur menggunakan simbol.
Praktis untuk merangkum materi yang padat. “Kami ingin mengubah mindset bahwa mencatat itu membosankan. Dengan metode yang tepat, mencatat justru jadi alat untuk memahami, bukan hanya menghafal,” ujar Mirza Abdel Hakeem, mahasiswa Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, aktifis Fordimapelar yang menjadi pemateri workshop. Tidak berhenti di teori, seluruh peserta langsung diajak praktik, dipandu oleh tim Fordimapelar Universitas Brawijaya.

Tantangannya: membuat karya tulis sederhana tentang kegiatan mereka hari itu selama workshop, menggunakan salah satu dari tiga metode yang baru dipelajari. Hasilnya, berbagai karya kreatif muncul. Ada yang menggambarkan suasana workshop dengan mind map penuh warna, ada yang merangkum materi dengan rapi ala Cornell, hingga yang menuliskan pengalaman secara lugas dengan bullet point.
Salah satu murid kelas X mengaku terbantu. “Biasanya catatanku berantakan dan susah dibaca lagi. Pakai Cornell ternyata lebih gampang diingat,” katanya. Pihak sekolah berharap, melalui workshop ini, murid kelas X memiliki bekal literasi dasar yang kuat sebelum masuk ke materi kejuruan yang lebih kompleks.

Jurnalis: Mirza Abdel Hakeem
Editor: Iwik Pratiwi, S.Pd